 |
Mukhlisi saat mengamati burung-burung di sebuah kubangan dalam kawasan hutan Pulau Nusa Barong, Senin siang, 20 Mei 2024. Foto-foto: ABDI PURMONO |
MUKHLISI dan Bagus Suseno sering terlihat berseru gembira
setiap kali memotret burung di dalam kawasan Suaka Margasatwa Pulau Nusa
Barung.
Tidak semua jenis burung yang dipotret bisa langsung
dikenali sehingga mereka membuka buku Panduan
Lapangan Burung-burung di Sumatera,
Jawa Bali dan Kalimantan yang dikarang John MacKinnon bersama Karen
Phillips dan Bas van Balen (LIPI, 2010), serta buku Panduan Lapangan Identifikasi Burung-burung di Indonesia, Buku I: Sunda
Besar, Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali dan Pulau di Sekitarnya (Interlude,
Yogyakarta, Agustus 2022).
Selain buka buku panduan, Mukhlisi dan Bagus berdiskusi
dengan anggota Tim Ekspedisi Pulau Nusa Barung lainnya. Tiap malam, apa pun
hasil pemotretan burung harus dilaporkan dalam rapat rutin tim eskpedisi bentukan
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ini. Ekspedisi berlangsung selama 15-26
Mei 2024 dan saya satu-satunya
jurnalis yang jadi anggota tim.
Mukhlisi merupakan Peneliti Ahli Madya di Pusat
Riset Zoologi Terapan BRIN. Sedangkan Bagus adalah Kepala Resor Konservasi Wilayah 16 Jember—kini jadi RKW 14
setelah RKW 16 Jember dan RKW 15 Pulau Nusa Barung disatukan per 1 Juni kemarin.
Total, ada sembilan
orang peneliti flora dan fauna di Pulau Nusa Barong yang bekerja sejak medio
hingga akhir Mei lalu. tim ini terdiri dari lima orang
peneliti BRIN (termasuk Mukhlisi),
dibantu tiga peneliti dari instansi di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan
Kehutanan (KLHK), serta seorang peneliti dari lembaga swadaya masyarakat.
Baca juga: BRIN Pakai Teknologi eDNA dan Bioakustik di Pulau Nusa Barong
Selain Mukhlisi, delapan
orang peneliti lainnya bernama Tri Atmoko dan Oki Hidayat (Pusat Riset
Zoologi Terapan BRIN); Istiana Prihatini (Pusat Riset Konservasi Tumbuhan,
Kebun Raya dan Kehutanan BRIN); Bina Swasta Sitepu (Pusat Riset Ekologi dan
Etnobiologi BRIN); Warsidi (Balai Penerapan Standar Instrumen Lingkungan Hidup
dan Kehutanan/BPSI-LHK Samboja, Kalimantan Timur); Toni Artaka (Pengendali
Ekosistem Hutan yang juga peneliti anggrek Balai Besar Taman Nasional Bromo
Tengger Semeru/TNBTS); Fajar Dwi Nur Aji (Pengendali Ekosistem Hutan Balai
Besar KSDA Jawa Timur), dan Andi Iskandar Zulkarnain (Yayasan Pelestarian
Keanekaragaman Hayati Indonesia/Pakarti). Tim ini dipimpin Tri Atmoko.
BRIN dan BBKSDA JawaTimur memang bekerja sama melakukan penelitian flora dan fauna ini, namun kendali
kegiatan dipegang BRIN. BBKSDA Jawa Timur pun sebenarnya sangat terbantu karena
biasanya tiap tahun mereka melakukan survei keanekaragaman hayati (kehati) di
sana.
 |
Papan nama Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barung, Minggu, 19 Mei 2024. |
Pulau Nusa Barung merupakan pulau terluar yang berada di perairan Samudera
Indonesia, dulu bernama Samudera Hindia. Secara administratif, Pulau Nusa Barung
berada di wilayah Desa Puger Kulon, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember.
Masyarakat Jember, khususnya para nelayan, terbiasa menyebut pulau seluas 7.635,9 hektare ini dengan nama Pulau Nusa Barong.
Mukhlisi mengatakan, mayoritas jenis burung dikenali dari
hasil pemotretan. Hanya sekitar dua ekor yang diidentifikasi dari suaranya dan
dua ekor lagi tersangkut jaring kabut (mistnet)
yang dipasang tim BRIN untuk menangkap kelelawar.
Hasilnya, kata Mukhlisi, keanekaragaman hewan aves (burung-unggas) di Suaka Margasatwa
Pulau Nusa Barung bertambah. Semula tercatat ada 19 jenis burung (2022) dan 53
spesies burung (2023) versi survei yang didakan BBKSDA Jawa Timur. Kini,
jumlahnya bertambah jadi 67 spesies apabila digabung dengan data jenis burung
yang diamati BRIN pada medio hingga akhir Mei lalu.
“Secara total, jika direkapitulasi data BBKSDA Jatim 2022
dan 2023, ditambahkan dengan data BRIN Mei 2024, maka di Nusa Barong sampai
saat ini terdata sebanyak 67 jenis burung. Jadi, alhamdulillah, ada perbaruan
data keanekaragaman jenis burung di Nusa Barong,” kata Mukhlisi kepada saya, Jumat, 21 Juni 2024.
Baca juga: Kembalinya Curik di Pulau Dewata
Hitungannya begini. Berdasarkan
hasil survei kehati yang diadakan Bidang KSDA Wilayah III Jember pada 2023 diperoleh
data 53 jenis burung di Nusa Barong. Jumlah ini meningkat dari 19 jenis burung
berdasarkan hasil survei kehati yang dilakukan tim gabungan BBKSDA Jawa Timur
dan Universitas Muhammadiyah Malang pada 18-23 Juli 2022.
Sedangkan BRIN mendata
31 jenis burung. Jumlahnya memang sedikit tinimbang data hasil survei kehati
versi BBKSDA Jawa Timur, namun BRIN membukukan catatan baru atau new record sebanyak 7 jenis burung di
Pulau Nusa Barong yang sebelumnya tidak masuk dalam data hasil survei kehati
2022 dan 2023 versi BBKSDA itu.
Mukhlisi menyebutkan, terdapat
tiga jenis burung yang muncul dalam laporan hasil survei kehati 2022, tapi ketiganya
tidak dicantumkan dalam laporan 2023, yaitu burung delimukan zamrud (Chalcophaps indica), dara laut batu (Onychoprion
anaethetus), dan srigunting kelabu (Dicrurus
leucophaeus).
“Idealnya, data BKSDA
2023 sudah merupakan rekapan dengan tahun-tahun sebelumnya. Jadi datanya bersifat time
series. Saya awalnya tidak memperhatikan itu. Untung Abang tanyain terus tadi soal akurasi datanya. Ya, BRIN dan BBKSDA saling
bantu memperbaiki dan melengkapi datanya,” kata Mukhlisi, peneliti kelahiran
Bandar Lampung, 18 Desember 1983.
 |
Salah satu kubangan dalam kawasan hutan Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barong, Sabtu siang, 20 Mei 2024. |
Ketujuh jenis aves yang
jadi catatan baru bagi kawasan Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barung adalah adalah
elang alap jambul (Accipiter trivirgatus),
kapasan kemiri (Lalage nigra), wiwik
rimba (Cacomantis variolosus), tepekong jambul (Hemiprocne longipennis), kancilan bakau (Pachycephala cinerea),
ayam hutan hijau (Gallus varius), dan
gagak (Corvus enca). Burung gagak ini
merupakan bagian dari 70 ekor satwa yang dilepasliarkan oleh BBKSDA Jawa Timur
bersama Jaringan Satwa Indonesia (JSI) pada Kamis, 30 April 2024.
Sebenarnya, ada satu jenis burung yang membuat Mukhlisi
ragu-ragu memasukkannya sebagai catatan baru jenis burung di Pulau Nusa Barong,
yakni jenis burung dari kelompok raja udang. Ia bimbang apakah yang dilihatnya
burung udang api (Ceyx erithacus)
ataukah burung udang punggung merah (Ceyx
rudifosa) sehingga proses identifikasi jenis burung ini lebih lama dari
jenis burung lainnya.
Selain catatan baru 7 jenis burung, BRIN juga menemukan tujuh
jenis burung dilindungi yang terdiri dari 5 jenis burung pemangsa atau raptor dan 2 jenis burung yang masuk
masuk dalam keluarga keluarga/famili burung laut atau Sturnidae.
Kelima burung pemangsa yang teramati teridentifikasi
sebagai elang alap jambul; elang ular bido (Spilornis
cheela), elang laut perut putih (Haliaeetus leucogaster), alap-alap kawah (Falco peregrinus),
dan elang jawa atau Nisaetus bartelsi, yang sebelum tahun 2005
bernama ilmiah Spizaetus bartelsi.
Baca juga: Memantau Sang Garuda di Lereng Semeru
Bahkan, kata Mukhlisi, tim berhasil memotret sarang aktif
elang ular bido di kawasan hutan Teluk Kecambah. Sejatinya, mencari dan
menemukan sarang elang sangat susah, makanya itu menjadi salah satu temuan
paling menarik. Pemotretnya Fajar Dwi Nur Aji.
Khusus elang jawa, burung predator ini merupakan burung
endemik Pulau Jawa—belakangan cukup banyak laporan kemunculan elang jawa di
hutan Bali Barat, Bali—dan sering disepadankan dengan lambang negara Garuda
Pancasila. Populasi elang jawa di Pulau Nusa Barong hanya terpantau dua
individu selama pengamatan, yaitu di sekitar jalur pengamatan pantai Teluk
Jeruk dan pantai Teluk Ceret, yang masing-masing merupakan elang jawa penetap
alias native dan elang jawa hasil
pelepasliaran November 2022.
Sedangkan dua jenis burung lagi teridentifikasi sebagai dara
laut batu (Onychoprion
anaethetus) dan dara laut tengkuk hitam (Sterna sumatrana).
Menurut Mukhlisi, mayoritas jenis burung yang terdata
oleh BRIN, termasuk 7 jenis burung catatan baru tadi, status konservasinya least concern alias risiko rendah dalam
Daftar Merah Uni Internasional untuk Konservasi dan Sumber Daya Alam (The
International Union for Conservation of Nature/IUCN).
Baca juga: Petugas KSDA Jawa Timur Dilatih Menangani Anak Lutung Jawa
 |
Salah satu kubangan dalam kawasan Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barong, Sabtu siang, 20 Mei 2024. |
Hanya elang jawa yang berstatus endangered alias terancam punah dalam Daftar Merah IUCN. Javan hawk-eagle ini masuk pula ke dalam
daftar Apendiks I Konvensi Internasional untuk Perdagangan Spesies Flora dan
Fauna Liar yang Terancam Punah (Convention on International Trade in Endangered
Species of Wild Fauna and Flora/CITES) alias selangkah lagi menuju kepunahan.
Temuan jenis-jenis burung pemangsa di Pulau Nusa
Barong jadi salah satu temuan menarik. Mereka berada di puncak
rantai makanan yang mempunyai wilayah jelajah atau home range nan luas,
tapi di sisi lain mereka bernasib sangat rentan terhadap perubahan
lingkungan, seperti deforestasi dan polusi, juga perburuan.
Hasil survei menunjukkan wilayah pesisir didominasi oleh
jenis burung air cekakak sungai (Todiramphus
chloris) dengan
suaranya yang terdengar sangat khas dan keras, yang bisa terdengar
sepanjang hari. Burung mungil sekepalan tangan orang dewasa ini dikenal
juga salah satu burung raja udang yang mampu berburu serangga di udara atau
menyergap mangsa di air dari posisi terbang.
Sebagaimana burung raja udang lainnya, cekakak sungai
menyukai habitat perairan seperti tepi sungai atau danau, rawa-rawa air tawar, rawa
mangrove dan pantai. Sering pula dijumpai di area perkotaan, pertanian, dan
kebun. Di Nusa Barong, cekakak sungai banyak ditemukan di tepian pantai hingga
hutan pedalaman pulau.
Sedangkan di area tengah hutan Pulau Nusa Barong
didominasi
burung merbah belukar (Pycnonotus
plumosus), kehicap ranting (Hypothymis azurea), dan delimukan
zamrud.
“Secara ekologis, keragaman jenis burung, khususnya
kelompok burung pemangsa, mencerminkan kesehatan habitat yang mereka tempati;
mengindikasikan kualitas ekosistem hutan dan pesisir di Nusa Barong masih
berkondisi baik,” ujar Mukhlisi, sarjana biologi dari
Universitas Lampung.
Fungsi Burung bagi Alam dan Manusia
Bukan hanya di Suaka Margasatwa Pulau Nusa Barung, umumnya
burung-burung berguna bagi manusia baik langsung maupun tidak langsung. Manusia
dapat melihat langsung melihat fisiknya maupun menikmati kicauannya, terutama
kicauan burung di alam.
Bagi penggemar burung berkicau, misalnya, suara burung
bisa menenteramkan hati pemiliknya. Hal ini menunjukkan burung turut
berkontribusi besar dalam pembentukan budaya masyarakat Indonesia, seperti
menginspirasi tari-tarian, pakaian tradisional, folklor, hingga lambang negara.
Dari aspek lingkungan, burung-burung membantu proses
penyebaran biji tumbuhan sehingga membantu meregenerasi hutan dan kebun. Bagi
masyarakat perdesaan, burung membantu dalam hal pengendalian hama seperti
memakan serangga perusak pertanian.
Baca juga: Balai Konservasi Gagalkan Pengiriman Ratusan Ekor Burung Nuri
Ekosistem yang terjaga berkat kehadiran burung pada
akhirnya berfaedah dalam hal ketersediaan bahan-bahan di alam, seperti air,
udara bersih, serta hasil tanaman berupa obat-obatan dan buah-buahan. Selain
menjaga ekosistem, keberadaan burung-burung turut menjaga bentang alam dari
ancaman banjir, longsor, dan bencana alam lainnya.
Kicauan burung juga bisa menambah estetika alam. Bahkan,
dalam konteks ekowisata maupun kegiatan wisata minat khusus, spesies-spesies
endemis burung bisa menghasilkan penghasilan bagi masyarakat lokal dari usaha
pengamatan burung atau bird watching.
Dengan begitu, fulus didapat, kelestarian burung terjaga.
“Kita sering tidak menyadari pentingnya fungsi burung
bagi alam dan manusia. Padahal, burung-burung ikut berfungsi menyelamatkan alam
dan manusia, termasuk manusia yang jadi pemburunya, dari segala bentuk bencana
alam,” kata Mukhlisi, sarjana ilmu lingkungan dari Universitas Diponegoro. ABDI PURMONO